Sekilas tentang Banten, awal abad ke-17 Masehi, Banten
merupakan salah satu pusat perniagaan penting dalam jalur perniagaan
internasional di Asia. Daerah kekuasaannya mencakup juga wilayah yang sekarang
menjadi provinsi Lampung. Ketika orang Belanda tiba di Banten untuk pertama
kalinya, orang Portugis telah lama masuk ke Banten. Kemudian orang Inggris
mendirikan loji di Banten, baru kemudian disusul orang Belanda. Selat Sunda menjadikan Banten merupakan salah satu jalur lalu lintas laut
yang strategis karena dapat dilalui kapal besar yang menghubungkan Australia
dan Selandia Baru dengan kawasan Asia Tenggara. Di samping itu Banten merupakan
jalur penghubung antara Jawa dan Sumatera.
Untuk kebudayaannya, di
Banten sebenarnya banyak sekali terdapat kebudayaan, namun tak banyak didengar
orang. Berikut ini adalah beberapa kebudayaan yang ada di Banten, seperti:
Kebudayaan Pencak Silat
Pencak silat merupakan seni beladiri
yang berakar dari budaya asli bangsa Indonesia. Disinyalir dari abad ke 7 Masehi
silat sudah menyebar ke pelosok nusantara. Perkembangan dan penyebaran silat
secara historis mulai tercatat ketika penyebarannya banyak dipengaruhi oleh
kaum Ulama, seiring dengan penyebaran agama Islam pada abad ke15 di
Nusantara. Kala itu pencak silat telah diajarkan bersama-sama dengan pelajaran
agama di pesantren-pesatren dan juga surau-surau. Budaya sholat dan silat
menjadi satu keterikatan erat dalam penyebaran pencak silat. Silat lalu
berkembang dari sekedar ilmu beladiri dan seni tari rakyat, menjadi bagian dari
pendidikan bela negara untuk menghadapi penjajah. Disamping itu juga pencak
silat menjadi bagian dari latihan spiritual.
Kebudayaan Debus
Debus merupakan kesenian bela
diri dari Banten. Kesenian
ini diciptakan pada abad ke-16, pada masa pemerintahan Sultan Maulana
Hasanuddin (1532-1570).
Debus, suatu kesenian yang mempertunjukan kemampuan manusia yang luar biasa,
kebal senjata tajam, kebal api, minum air keras, memasukan benda kedalam kelapa
utuh, menggoreng telur di kepala dan lain-lain.
Debus dalam
bahasa Arab yang berarti senjata tajam yang terbuat dari besi, mempunyai ujung
yang runcing dan berbentuk sedikit bundar. Dengan alat inilah para pemain debus
dilukai, dan biasanya tidak dapat ditembus walaupun debus itu dipukul berkali
kali oleh orang lain. Atraksi atraksi kekebalan badan ini merupakan variasi
lain yang ada dipertunjukan debus. Antara lain, menusuk perut dengan benda
tajam atau tombak, mengiris tubuh dengan golok sampai terluka maupun tanpa
luka, makan bara api, memasukkan jarum yang panjang ke lidah, kulit, pipi
sampai tembus dan tidak terluka.
Kebudayaan Rudat Banten
Rudat adalah
kesenian tradisional khas Banten yang merupakan perpaduan unsur tari, syair
shalawat, dan olah kanuragan yang berpadu dengan tabuhan terbang dan tepuk
tangan. Rudat terdiri dari sejumlah musik perkusi yang dimainkan oleh
setidaknya delapan orang penerbang (pemain musik) yang mengiringi tujuh hingga
dua belas penari.Menurut beberapa tokoh Rudat, nama Rudat diambil dari nama
alat yang dimainkan dalam kesenian ini. Alat musik tersebut berbentuk bundar
yang dimainkan dengan cara dipukul. Seni Rudat mulai ada dan berkembang pada
masa pemerintahan Sinuhun Kesultanan Banten II, Pangeran Surosowan Panembahan
Pakalangan Gede Maulana Yusuf (1570-1580 M).Tidak banyak yang mengetahui siapa
yang menciptakan kesenian ini, karena sekarang sesepuh yang mengetahui
seluk-beluk Rudat sangat sedikit bahkan sebagian sudah meninggal. Naskah yag
berisi sejarah Rudat dan nilai-nilai filosofis tentang rudat pun hanya dimiliki
oleh satu sampai dua orang yang salah satunya merupakan anak dari mendiang
pemilik naskah yang menjadi sesepuh disana.
Kebudayaan Tari Dzikir Saman Banten
Dzikir Saman
yang ada di Banten berbeda dengan Saman yang ada di Aceh, disini para pemainnya
terdari dari laki-laki dengan membentuk lingkaran. Sambil berputar, sambil
menyebutkan shalawat Nabi Muhammad SAW. Seni Dzikir Saman ini tidak diiringi
dengan perangkat alat musik, hanya nyanyian dengan menyebut asma Allah, alok
dan gerakan tubuh yang berputar-putar. Seni ini sudah ada sejak dahulu,
biasanya dalam acara tertentu seperti Khol Syeh Abdul Khodir Jailani, Rasullan,
dan acara keagamaan lainya.
Kebudayaan Ubrug Banten
Istilah
ubrug diambil dari bahasa Sunda yaitu saubrug-ubrug yang artinya bercampur
baur. Dalam pelaksanannya, kesenian ubrug ini kegiatannya memang bercampur
yaitu antara pemain/pelaku dengan nayaga yang berada dalam satu tempat atau
arena. Namun ada pendapat bahwa ubrug diambil dari kata sagebrug yang artinya
apa yang ada atau seadanya dicampurkan, maksudnya yaitu antara nayaga dan
pemain lainnya bercampur dalam satu lokasi atau tempat pertunjukan.
Waditra yang
digunakan dalam ubrug yaitu kendang besar, kendang kecil, goong kecil, goong
angkeb (dulu disebut katung angkub atau betutut), bonang, rebab, kecrek dan
ketuk. Alat-alat ini dibawa oleh satu orang yang disebut tukang kanco karena
alat pemikulnya bernama kanco yaitu tempat menggantungkan alat-alat tersebut.
Busana yang dipakai yaitu: juru nandung mengenakan pakain tari lengkap dengan kipas untuk digunakan pada waktu nandung. Pelawak atau bodor pakaiannya disesuaikan dengan fungsinya sebagai pelawak yang harus membuat geli penonton. Bagi nayaga tidak ada ketentuan, hanya harus memakai pakaian yang rapi dan sopan dan pakaian pemain disesuaikan dengan peran yang dibawakannya.
Busana yang dipakai yaitu: juru nandung mengenakan pakain tari lengkap dengan kipas untuk digunakan pada waktu nandung. Pelawak atau bodor pakaiannya disesuaikan dengan fungsinya sebagai pelawak yang harus membuat geli penonton. Bagi nayaga tidak ada ketentuan, hanya harus memakai pakaian yang rapi dan sopan dan pakaian pemain disesuaikan dengan peran yang dibawakannya.
Kebudayaan Tari Cokek Banten
Cokek adalah
sebuah tarian tradisional dari daerah Tangerang yang dimainkan kali pertama
sekitar abad ke-19. Ketika itu, tarian ini diperkenalkan oleh Tan Sio Kek,
seorang tuan tanah Tionghoa di Tangerang yang sedang
merayakan pesta. Dalam perayaan pesta itu, Tan Sio Kek mengundang beberapa
orang ternama yang tinggal di Tangerang. Tan Sio Kek mengundang juga tiga orang
musisi yang berasal dari daratan Cina. Ketika itu, para musisi Cina hadir
sambil membawa beberapa buah alat musik dari negara asalnya.
Salah satu
alat musik yang mereka bawa yakni Rebab Dua Dawai. Atas permintaan Tan Sio Kek,
musisi itu kemudian memainkan alat musik yang mereka bawa dari daratan Cina.
Pada saat yang bersamaan, grup musik milik Tan Sio Kek juga memainkan beberapa
alat musik tradisional dari daerah Tangerang, seperti seruling, gong serta
kendang.
Kebudayaan Dog-dog Lojor Banten
Kesenian
dogdog lojor terdapat di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau kesatuan
adat Banten Kidul yang tersebar di sekitar Gunung Halimun (berbatasan dengan
Sukabumi, Bogor, dan Lebak). Meski kesenian ini dinamakan dogdog lojor, yaitu
nama salah satu instrumen di dalamnya, tetapi di sana juga digunakan angklung
karena kaitannya dengan acara ritual padi. Setahun sekali, setelah panen
seluruh masyarakat mengadakan acara Serah Taun atau Seren Taun di pusat kampung
adat. Pusat kampung adat sebagai tempat kediaman kokolot (sesepuh) tempatnya
selalu berpindah-pindah sesuai petunjuk gaib.
Tradisi
penghormatan padi pada masyarakat ini masih dilaksanakan karena mereka termasuk
masyarakat yang masih memegang teguh adat lama. Secara tradisi mereka mengaku
sebagai keturunan para pejabat dan prajurit keraton Pajajaran dalam baresan
Pangawinan (prajurit bertombak). Masyarakat Kasepuhan ini telah menganut agama
Islam dan agak terbuka akan pengaruh modernisasi, serta hal-hal hiburan
kesenangan duniawi bisa dinikmatinya.
Kebudayaan Suku Baduy
Orang Kanekes atau orang Baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat Sunda
di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Sebutan "Baduy" merupakan sebutan
yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal
dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan
kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden).
Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di
bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri
sebagai urang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah
mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang
Cibeo.
Suku Baduy sendiri terbagi menjadi tiga kelompok yaitu tangtu, panamping,
dan dangka (Permana, 2001). Kelompok tangtu adalah kelompok yang dikenal
sebagai Baduy Dalam. Yaitu kelompok Baduy yang paling ketat mengikuti adat
mereka. Terdapat tiga kampung pada kelompok Baduy dalam yaitu: Cibeo,
Cikartawana, dan Cikeusik. Ciri khas orang Baduy Dalam adalah mereka mengenakan
pakaian yang berwarna putih alami dan biru tua serta mengenakan ikat kepala
putih. Kelompok yang kedua adalah Baduy Luar atau dikenal sebagai kelompok
masyarakat panamping. Yang berciri mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna
hitam. Dan tersebar mengelilingi wilayah Baduy Dalam seperti Cikadu, Kaduketuk,
Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya. Lain halnya kelompok ketiga
disebut dengan Baduy Dangka, mereka tinggal di luar wilayah Kanekes tidak
seperti Baduy Dalam dan Luar. dan saat ini hanya 2 kampung yang tersisa yaitu
Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam).
Kebudayaan Rumah Adat Baduy
Rumah adatnya
adalah rumah panggung yang beratapkan daun atap dan lantainya dibuat dari
pelupuh yaitu bambu yang dibelah-belah. Sedangkan dindingnya terbuat dari bilik
(gedek). Untuk penyangga rumah panggung adalah batu yang sudah dibuat
sedemikian rupa berbentuk balok yang ujungnya makin mengecil seperti batu yang
digunakan untuk alas menumbuk beras. Rumah adat ini masih banyak ditemukan di
daerah yang dihuni oleh orangKanekes atau disebut
juga orang Baduy.
Kebudayaan Golok Banten
Golok adalah pisau besar dan berat yang
digunakan sebagai alat berkebun sekaligus senjata yang jamak ditemui di Asia
Tenggara. Hingga saat ini kita juga bisa melihat golok digunakan sebagai
senjata dalam silat.
Ukuran,
berat, dan bentuknya bervariasi tergantung dari pandai besi yang membuatnya.
Golok memiliki bentuk yang hampir serupa dengan machete tetapi golok
cenderung lebih pendek dan lebih berat, dan sering digunakan untuk memotong
semak dan dahan pohon. Golok biasanya dibuat dari besi baja karbon yang lebih
lunak daripada pisau besar lainnya di dunia. Ini membuatnya mudah untuk diasah
tetapi membutuhkan pengasahan yang lebih sering.










Ajak main lah..
BalasHapus